Minggu, 21 Oktober 2012

menjaga kesucian hati


Hati merupakan bagian terpenting dari tubuh manusia, bentuknya memang hanya segumpal darah, tetapi ia mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan perbuatan manusia.
Hati ibarat kemudi yang mengarahkan mobil/kendaraan sesuai dengan kehendak sopir, Rasulullah menerangkan dalam sebuah haditsnya:

“Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah, apabila ia benar maka tubuh itu akan ikut benar dan apabila ia rusak maka seluruh tubuh akan rusak, segumpal darah itu adalah hati.”

Bahkan salah satu misi kenabian adalah untuk mensucikan hati, di dalam al-Quran diterangkan:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan (hati) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS.Al-Jumu ‘ah: 2)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa setelah penyampaian pesan-pesan ilahi maka yang pertama kali dilakukan oleh para Nabi dan Rasul adalah membersihkan hati manusia, dalam hal ini yang dimaksud adalah membersihkan hati-hati manusia dari keyakinan atau kepercayaan-kepercayaan yang sesat dan tidak benar, baru setelah itu mereka mengajarkan syariat dan tata cara hidup menurut syariat yang benar. Maka pengajaran Rasul yang pertama kepada manusia adalah membersihkan hati, dalam hal ini yang dimaksud adalah menanamkan aqidah (keimanan) yang benar. Selanjutnya pengajaran aqidah tersebut ter-platform dalam Rukun Iman.

Adalah sebuah fenomena yang menarik yang bekembang dewasa ini, yaitu semaraknya kajian-kajian yang bertema Menejemen Qalbu (MQ) salah satunya yang paling popular adalah MQ yang dibina oleh Aa Gym. Namun sangat disayangkan bahwa pendekatan yang digunakan lebih cenderung kepada tawasuf, padahal tasawuf itu sendiri saran dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan aqidah. Walaupun kita tidak dapat menutup mata bahwa penyampaian yang lugas dan ringan sangat menarik simpati banyak pihak. Apalagi materi/tema yang disampaikan adalah masalah seputar kehidupan sehari-hari. Namun perlu kita cermati bahwa pokok masalah dari sekian banyak masalah yang timbul di kehidupan sehari-hari belum tersentuh. Pokok masalahnya adalah satu yaitu Iman (aqidah). Perlu diketahui bahwa akhlak-ul karimah hanyalah salah satu dari pancaran sinar iman. Iman (aqidah) inilah yang mengendalikan kemudi hati, kemanakah hati ini akan diarahkan, maka anggota tubuh akan mengikuti sesuai kehendak hati.

Berangkat dari ayat diatas maka pokok persoalan yang harus segera diselamatkan adalah Iman (aqidah). Dengan demikian perkerjaan yang mula-mula ditempuh adalah memperbaiki iman, apakah iman kita sudah betul atau tidak?.

Iman itu sendiri telah dirumuskan dalam urutan yang disebut Rukun Iman. Rasulullah bersabda:

“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya, para Rasul-Nya, kepada hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk. (HR. Bukhari)

Iman kepada Allah sebagai Tuhan alam semesta, yang memberi rizki, yang memuliakan dan yang menghinakan, yang menghidupkan dan yang mematikan, yang Mahaperkasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang dan segala sifat yang Mahasempurna yang dimiliki-Nya; menghilangkan kepercayaan-kepercayaan yang sesat dan takhayul-takhayul yang tidak berdasar, dan menghilangkan ketergantungan kepada selain Allah. Tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan Allah, tidak ada sesuatupun yang dapat memberikan manfaat dan menolak bahaya kecuali Allah, Allah tempat bergantung hanya kepadanya segala perkara kembali. Sehingga seorang hamba hanya tunduk kepada-Nya dan hanya memberikan penghormatannya (menyembah) kepada-Nya.

Iman kepada hari akhirat dengan fase-fase yang harus tempuh, telah mengarahkan seorang hamba untuk menyadari bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang kekal, setelah kehidupan dunia masih ada kehidupan lagi, kehidupan yang lebih abadi. Seorang hamba akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan kekal tersebut. Ia tidak terlena oleh gemerlapnya cahaya dunia beserta kenikmatannya, tidak tertipu oleh indahnya dunia. Ia akan mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup. Keyakinan akan hisab mendorong hamba untuk selalu berlomba-lomba dalam kebajikan. Ia yakin bahwa seberat apapun kecilnya sebuah kebajikan Allah akan memberikan ganjarannya dan sebesar apapun keburukan yang diperbuat Allah akan memberikan hukumannya.

Iman kepada takdir Allah, menjauhkan hamba dari rasa putus asa dan mendorong untuk selalu bersungguh-sungguh dalam berbuat. Putus asa merupakan suatu sikap yang timbul karena rasa ketidak mampuan dalam menghadapi suatu masalah. Perlu diketahui bahwa Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk memilih dan berbuat, manusia mempunyai kekuatan karenanyalah Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dengan kemampuan ini, manusia berbuat dan mengatasi permasalahannya, tidak ada permasalahan yang tidak bisa diatasi oleh manusia, karena Allah tidak memberikan beban kepada hambanya kecuali ia mampu untuk menanggungnya. Sehingga manusia akan terus berusaha dan berpikir agar terlepas dari masalah yang dihadapinya, kesungguhan inilah yang akhirnya melepaskan dirinya dari masalah yang dihadapinya. Namun demikian kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia adalah terbatas. Manusia bukanlah Tuhan, hanya Tuhanlah yang mempunyai kekuasaan tak terbatas. Dengan demikian manusia menyadari bahwa ia bukanlah apa-apa di hadapan Tuhan Yang Maha Perkasa. Keterbatasan inilah yang mengantarkan manusia untuk selalu memohon pertolongan dari-Nya dengan penuh tawakkal dan pasrah akan ketetapan yang diberikan-Nya.

Seorang Mu’min meyakini bahwa segala yang terjadi pada dirinya dari yang baik dan yang buruk merupakan takdir Allah yang telah ditetapkan kepadanya. Ia melihat bahwa semua yang ditetapkan Allah adalah baik, karena Allah tidak menginginkan kepada hamba-Nya kecuali hanya kebaikan. Apabila mendapatkan nikmat ia bersyukur dan apabila mendapatkan musibah ia bersabar, dan yang demikian itu adalah kebaikan. Sabda Rasulullah SAW:

“Sungguh mengherankan urusan orang mu’min itu. Sesungguhnya urusannya semua adalah baik. Tidaklah itu berlaku bagi seseorang kecuali baig seorang mu’min. Jika ia mendapat nikmat ia bersyukur maka menjadi baik baginya, dan jika ia ditimpah musibah ia bersabar, maka menjadi baik untuknya.” (HR. Ahmad)

Maka orang Mu’min yang menjiwai dan merasakan seperti ini akan tenang hatinya, enak badan dan jiwanya. Kehidupannya penuh dengan kebahagaiaan, dinaungi oleh perasaan ridho dan damai, serta merasa tenang atas rahmat Allah dan keadilan-Nya, karena Dialah tumpuan harapannya, benteng perlindungannya, permata hatinya dan kenyamanan imannya.

Dapat diketahui bahwa pengaruh Iman dalam kehidupan individu dan masyarakat diantaranya:

1. Iman adalah kehidupan hati, yang memasok kekuatan kepadanya dan mendorong bagi jiwa agar menghiasi diri dengan budi pekerti yang baik.

2. Iman menghilangkan keyakinan-keyakinan, prasangka-prasangkaan yang sesat dan takhayul-takhayul.

3. Iman mendorong untuk beramal soleh dan bersungguh-sungguh dalam bekerja.

4. Iman sebagai sumber ketenangan dan kedamaian bagi setiap orang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa problematika masyarakat kita disebabkan oleh akumulasi berbagai hal, akan tetapi penyakit tersebut tidak dapat sembuh kalau hanya dengan mengobati akibatnya saja, sedangkan sumber utamanya tidak pernah disentuh sedikitpun. Maka kembali kepada iman (aqidah) adalah satu-satunya jalan untuk mengatasinya. Iman yang kuat akan memancarkan cahaya yang terang, cahaya yang teraplikasikan dalam akhlak karimah. Sudahkah Iman kita memancarkan cahayanya? Sebesar apakah cahayanya?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar